belles villes

Seharusnya aku tidak menulis ini sekarang..seharusnya tulisan ini dibuat pada malam itu..
Malam yang sangat berat untukku..Malam dimana terakhir kalinya aku bermesraan dengan “nya”. “Dia” adalah “wanita” yang hampir dipuja oleh semua kalangan. Setidaknya untuk orang-orang yang hidup di kota besar (jawa barat dan DKI khususnya). Yang hidup dengan harta yang tidak sedikit,juga kepenatan yang tidak kalah besarnya. Orang-orang yang mencari kesenangan sesaat untuk melepas sesaknya hidup.
Wangi tubuh yang menyegarkan. Rupa yang tak tersaingi keelokannya. Senyum yang hangat. Belum lagi perhiasan yang menambah kecantikannya.
Hhhhh…menulis hal ini memaksaku untuk harus mengingatnya lagi. Tersiksa mungkin yang aku rasa saat ini.
Tetapi apa mau dikata, aku tak dapat mengunjunginya lagi, untuk “menikmati” tubuhnya kembali. Masih bisa, begitu hibur orang-orang disekelilingku. Akan tetapi yang aku maksud disini adalah untuk waktu yang lama..
Seperti dulu dimana “dia” selalu menyambut pagiku dengan kehangatan senyumnya..memelukku setiap malam dengan kesejukannya. Senyuman yg selalu membuatku bersemangat untuk menyelesaikan setiap tantangan hari itu. Pelukan yang menenangkanku akan ketakutan akan esok.
Aku masih mengingat senyum yang selalu mengembang di bibirku, dulu saat aku kembali mengunjunginya (beberapa kali aku harus meninggalkannya,dalam waktu yang sebentar tentunya tidak seperti saat ini). Senyuman lega karena dapat melihat wajahnya dan “bermesraan” lagi dalam waktu yang lama.
Hanya kata : “maaf” yang dapat kuucapkan saat ini kepadamu. Waktu tidak akan memutar rodanya kembali. Mungkin suatu saat kita dapat “bermesraan” seperti dulu..Semoga..

Ingatan tentangmu tidak akan hilang dari kepalaku..Selamat tinggal..Bandung..

R.I.P

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Wakil Rakyat Seharusnya Merakyat

Oktober 2010

Bulan penuh cobaan bagi kita bangsa Indonesia. Tiga bencana terjadi susul menyusul. 4 Oktober 2010, banjir bandang melanda Pulau cendrawasih, tepatnya di kecamatan wasior,kabupaten Teluk Wondama. Seakan tak mau kalah oleh Timur,  Barat pun ikut bergolak dengan gempa dan tsunaminya pada 25 Oktober 2010. Hal itu terjadi di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Ditutup dengan kepahitan sempurna oleh Merapi yang meletus pada 26 Oktober 2010.

Bencana beruntun ibarat kata-kata yang keluar dari seorang ibu yang sedang mengomel kepada anaknya. Bunda pertiwi sedang marah kepada kita anak-anaknya. Anak yang tidak tahu (atau pura-pura tidak tahu) menjaga dan mensyukuri apa yang sudah diberikan kepadanya.

Tapi  ada yang membuat kepala ini tak habis-habisnya berpikir. Mengapa wakil-wakil kita (rakyat), yang seharusnya menjadi panutan masih sempat-sempatnya melancong ke negeri seberang. Pergi dengan alasan mencari pembelajaran dari negara-negara lain. Timbul tanda tanya besar dalam benak saya. Tak dapatkah ditunda “pembelajaran” itu sampai setidaknya korban bencana mendapat nasib yang jelas?
Saya rasa bisa, buktinya kejelasan masalah pajak saja dapat ditunda dengan berita kasus pornografi salah satu artis tanah air.

Atau mungkin saya yang salah karena menganggap negara ini belum kaya. Kekhwatiran yang keliru akan tidak tercukupinya dana untuk para korban bencana karena digunakan para wakil kita untuk melancong.Khawatir karena kas negara digunakan  belanja bakso serta nasi goreng untuk Presiden Adikuasa yang dengan rayuan gombalnya mampu membuat pendengarnya tepuk tangan kesetanan.

Mudah-mudahan saya salah. Tapi walapun kas berlebih(mudah-mudahan), bukankah sebaiknya digunakan berdasarkan prioritas. Tentunya para korban bencana adalah prioritas.

Mungkin penting untuk pembelajaran ke negara lain, tapi tidak sepenting memperoleh kepercayaan rakyat kan? Saya bukan menghalalkan tindakan kemanusiaan yang mengandung pamrih. Saya berharap adanya kesadaran sendiri dari wakil rakyat secara ikhlas untuk memproritaskan korban bencana. Dengan begitu kepercayaan akan timbul pada rakyat dengan sendirinya. Tidak ada negara yang sentosa melainkan negara yang rakyatnya percaya kepada pemimpin dan yang disebut belakangan ini memegang amanahnya dengan tanggungjawab penuh.

Tampaknya para wakil menyadari hal tersebut. Hal ini dibuktikan dengan tergerak hati Ketua DPR RI Marzuki Alie untuk memberikan gajinya selama sebulan kepada korban bencana, beliau juga meminta anggotanya untuk melakukan hal yang sama. (metronews.com, Selasa 9/11/201o, 09.38 WIB). Mudah-mudahan kegiatan tersebut benar adanya (bukan sekedar niat) dan tidak hanya semata untuk membangun citra tetapi didasari rasa kemanusiaan yang ikhlas.

Harapan saya sebesar-besarnya agar tidak terjadi lagi tindakan para wakil yang menyakiti perasaan rakyat sehingga melunturkan kepercayaan.

R.I.P

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Saya orang Indonesia!!

Kamu dari suku apa? ibumu suku apa? ayahmu suku apa? Pertanyaan yang terkadang muncul dalam perkenalan dengan seseorang. Untuk apa menanyakan hal tersebut, memangnya kenapa kalau saya dari suku A, B atau C?
Saya bukan suku A,B bahkan sampai Z, saya orang Indonesia titik!

Hei jangan mau bersahabat dengan suku A, B atau C! Mereka orangnya begini begitu. Jangan mau anak bujangmu menikahi gadis suku itu, mereka begini begitu. Sampah!!

Daerah asal gw dong lebih bagus dari disini. Memangnya apa bedanya? Tetap tanah yang sama, Indonesia.

Saya jadi pusing sendiri, sekarang saya ini sedang ada dimana. Di negara Indonesia, atau di negara suku A, yang bertetangga dengan negara suku B dan lainnya.

Semangat kedaerahan yang ngawur (walaupun bagi saya tidak ada semangat kedaerahan yang tidak ngawur) sering juga kita jumpai dalam kompetisi sepakbola tanah air ini.
Sebagaimana kita tahu, masing-masing tim mewakili satu daerah.

Lucu melihat suporter si kalah membuat rusuh, menyerang suporter si menang, atau warga yang bukan dari daerahnya. Ya lucu kalau hal itu saya lihat di sinetron, bioskop atau baca dari novel. Masalahnya ini realita!
‘Goblok!’ komentar terhalus dari mulut dan hati saya untuk mereka.

Kita ini warga Indonesia bung! terserah anda mau lahir di pulau apa, di besarkan dengan adat apa. Tapi kita menetek dari gunung yang sama. Gunung bunda pertiwi. Kita menguyah nasi dari tanah yang sama, tanah air Indonesia. Hanya setipis itu kah nasionalisme kita? Menyerang saudara sekandung hanya karena berbeda pulau, adat istiadat, kesenian dsb.
Atau mungkin dari dulu nasionalisme cuma paham yang terpaksa dijalankan untuk keluar dari penjajahan kolonial? Setelah merdeka, kembali ke awal lagi . Terkotak-kotak kembali seperti awal pada tahun 1900 awal (sebelum sumpah pemuda). Tidak ada yang namanya NKRI, yang ada hanya Jong A, Jong B dll. Semua sibuk memikirkan kepentingan sukunya saja, seperti yang dilakukan organisasi yang didirikan dokter-dokter muda STOVIA.

Kalau begitu bubarkan saja negara ini! Biar para “rambut jagung itu” kembali menggembala kita (anjing-anjingnya).
Kalau tidak maka tanggalkan panji-panji kedaerahan sekarang! Banggalah sebagai pemuda-pemudi Indonesia, bukan suku A,B atau C.

Tidak perlu lagi membuat pernyataan-pernyataanTOLOL, seperti : ” Indonesia dari dulu presidennya orang suku itu terus, cuma satu aja yang bukan.”
Saya hanya tau bahwa dari dulu Indonesia dipimpin oleh orang Indonesia.

Kalau suka kekerasan, suka menyerang saudara sendiri, kenapa tidak protes kepada Sang Pencipta untuk dilahirkan kembali menjadi anjing???? Anjing hidup berkelompok, memiliki daerah kekuasaan sendiri (ditandai dengan air kencingnya). Seekor anjing lain yang menginjakkan kaki di daerah tersebut, pasti mampus. Padahal mereka sama saja, ya anjing bukan buaya atau tikus.

Saya jadi bertanya sendiri,,masih adakah nasionalis dalam diri kita??

R.I.P

Posted in Uncategorized | 4 Comments

Baca buku??

Baca buku? bosan!! bikin ngantuk!! ga menarik!!

Itu adalah komentar-komentar sebagian besar teman saya jika sedang mendiskusikan pentingnya membaca. Dari hal tersebut saya beranggapan mungkin membaca bagi sebagian orang adalah hal paling menjemukan setelah menunggu. Saya tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Padahal semasa kanak-kanak  setiap orang senang membaca. Terlebih lagi untuk anak-anak yang orangtuanya termasuk dalam golongan ekonomi menengah-atas yang lahir pada tahun 1980-an akhir. Setiap ke pusat perbelanjaan pasti minta dibelikan  cerita bergambar.

Memang sampai beranjak dewasa, mereka masih suka membaca. Membaca buku cerita bergambar tersebut. Apakah ada yang salah dalam mengarahkan minat membaca seseorang pada masa kanak-kanak? Saya pikir tidak. Tidak mungkin kita sebagai orangtua memaksakan anak kita yang baru berumur 8 tahun untuk membaca buku setebal 100 halaman. Terlebih hanya tulisan yang ada pada setiap lembar buku tersebut.

Ini yang menjadi masalah dalam generasi muda kita. Mereka membaca hanya sebagai kewajiban saja. Kewajiban untuk mendapat nilai yang baik di sekolah, maka mereka rela membaca buku fisika,matematika,biologi dan sebagainya saat menjelang ujian. Setelah ujian selesai? Dengan senang hati dilemparkannya buku-buku tersebut beralih pada hiburan lain. Layangan, sepakbola, petak umpet, video game, jejaring sosial.

Ya sebenarnya masih ada yang tetap setia di kasurnya untuk membaca. Tepat!! Cerita bergambar. Saya tidak mengatakan hal-hal di atas salah (terlebih membaca buku cerita bergambar). Saya pun sering membacanya.Tetapi yang saya maksudkan disini adalah buku yang menambah wawasan, bukan buku yang memberikan hiburan dengan cerita robot kucing, bajak laut, samurai dan lain-lain.

Pengetahuan apa yang akan kita bawa saat kita berhadapan langsung dengan realita hidup? Saat kita memimpin? Saat kita menggantikan posisi bapak-bapak kita yang sudah ngawur langkahnya karena usia tetapi masih dipaksa untuk berpikir masalah negara?

Tentunya bukan pengetahuan benda-benda aneh dari si robot kucing, atau jurus-jurus samurai.

Baca! Dengan membaca kita dapat mengetahui apa yang terjadi dengan dunia, kita dapat mengetahui sejarah, mengetahui pengalaman hidup seorang tokoh, pemikiran orang. Dengan membaca kita dapat mengetahui sebuah kesalahan tanpa perlu kita melakukan kesalahan itu terlebih dahulu, kemudian menyesal dan memperbaikinya. Dengan membaca kita dapat mengetahui hal-hal baik tanpa perlu belajar puluhan tahun dari pengalaman hidup.

Biasakan dengan buku yang hanya berisikan huruf setiap lembarnya. Mulai dari hal kecil, dengan membaca koran setiap hari. Tidak perlu seluruh kolom berita, cukup satu saja. Kemudian tak perlu malu untuk mulai diskusikan hasil bacaan kita terhadap teman. Dengan sendirinya akan muncul kenikmatan membaca dan mempunyai pengetahuan lebih(walaupun sedikit).

Ingat! Membaca (bukan cerita bergambar) adalah suatu kebutuhan, bukan kewajiban. Nikmati membaca seperti saat anda menyeruput kopi/teh di pagi hari.

Baca buku?? Seru!! Enak!! Menyenangkan!!

Selamat membaca..

R.I.P

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Prakata

Annelies Mellema…

Nama blog ini saya ambil dari salah satu tokoh dalam tetralogi Pramoedya Ananta Toer,Tetralogi Buru. Tidak kreatif? mungkin. Tetapi saya mempunyai alasan tersendiri, mengapa memakai nama tokoh tersebut. Annelies Mellema adalah wanita yang sempurna secara fisik. Dalam karyanya Pram menggambarkan Annelies adalah wanita terindah pada zaman itu, tidak ada satupun wanita yang dapat berdiri sejajar dengannya dalam hal kecantikan. Membuat semua mata kaum Adam malas berkedip. Saya berharap tulisan saya pada blog ini dapat seperti Annelies. Harapan agar tulisan pada blog ini membawa “kecantikan” yang dapat dinikmati bagi yang mau membacanya.

Akan tetapi bukan tulisan yang dapat membuat semua orang tersenyum. Saya menulis bukan untuk menyenangkan semua pihak, sehingga tertarik untuk membaca.

Tidak untuk menyenangkan semua pihak, bukan berarti mencari permusuhan. Saya menulis, agar pikiran saya tidak terbatas hanya pada ukuran kemasannya (kepala). Menulis bagi saya adalah dialog dengan pikiran saya sendiri.

Bagi yang tertarik untuk membaca tulisan saya, terimakasih. Kritik dan komentar saya harapkan.

R.I.P

Posted in Uncategorized | 8 Comments

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment